![]() |
| Franky Sitorus & istri |
![]() |
| Tikar rotan asal Kalimantan |
![]() |
| Fery Siregar & istri |
Seni anyaman sudah lama dikenal di nusantara ini,bahkan sudah menjadi satu kebutuhan sehari hari ketika menjalankan aktifitas di dalam rumah dari pagi hari sampai malam hari.Seni menganyam merupakan proses menjaringkan atau menyilangkan bahan yang berasal dari rotan,lidi,pandan,akar,daun yang sebelumnya sudah dikeringkan lebih dahulu.Seni anyaman ini merupakan cerita tersendiri bagi setiap siapapun yang mengerjakanya.Tentu tingkat kecekatan penganyam berbeda-beda bila masih pemula akan lebih konsentrasi agar anyaman selalu rapi dan teratur ,bila penganyam sudah lihai maka dapat dilakukan sambil bercerita dan bersenda gurau.Pengalaman ini pernah aku rasakan sewaktu nenek dari ibu saya masih hidup. Saat malam tiba aku sudah menyiapkan bahan ataupun alat-alat yang diperlukanya.Pandan ( baca:bayon,bhs batak) yang sudah aku pipihkan lebih dahulu dengan menumbuk di atas sebatang balok kayu yang besar dan sampai semua berkas pandan menjadi pipih dan elastis.Dikala itu penerangan masih minim kami menggunakan lampu petromak atau semprong sebutanya saat itu.Saat jemari nenek menari-nari menganyam saat itulah aku menyimak dengan sepenuhnya ceritanya dan kadang sudah bercampur dengan nasehat serta petuah-amanahnya.Terkadang aku sudah tertidur pulas tetapi nenekku tidak tahu tetapi jemarinya masih menari sampai larut malam.
Kembali pada cerita tikar,bagiku sangat mempunyai arti yang mengesankan.Lalu apa hubunganya dengan sahabat pada judul tulisan ini ? Yah...inilah pengalaman kami bersama dengan sahabatku Franky Sitorus dan Fery Siregar sewaktu kami masih kuliah dan menyewa sebuah rumah petak di daerah Kalimalang Bekasi.
Tikar yang mempererat persahabatan kami dikala belajar
Tikar yang mempererat persahabatan kami dikala tidur malam
Tikar yang mempererat persahabatan kami dikala makan
Tikar yang mempererat persahabatan kami dikala menyaksikan acara Televisi
Tikar yang mempererat persahabatan kami didalam renungan dan doa pagi
Sahabatku....
Akankah kita kelak masih duduk bersama di atas tikar ?
Ataukah akan berganti dengan sepasang sofa yang menggilas jalinan dan anyaman tikar yang habis ditelan zaman ?
Aku tidak tahu...
Bagiku tikar dan sahabat tidak akan pupus dalam ingatan ...




