Jumat, 19 Agustus 2011

Tikar dan Sahabat

Franky Sitorus & istri
Tikar rotan asal Kalimantan
Fery Siregar & istri
Seni anyaman sudah lama dikenal di nusantara ini,bahkan sudah menjadi satu kebutuhan sehari hari ketika menjalankan aktifitas di dalam rumah dari pagi hari sampai malam hari.Seni menganyam merupakan proses menjaringkan atau menyilangkan bahan yang berasal dari rotan,lidi,pandan,akar,daun yang sebelumnya sudah dikeringkan lebih dahulu.Seni anyaman ini merupakan cerita tersendiri bagi setiap siapapun yang mengerjakanya.Tentu tingkat kecekatan penganyam berbeda-beda bila masih pemula akan lebih konsentrasi agar anyaman selalu rapi dan teratur ,bila penganyam sudah lihai maka dapat dilakukan sambil bercerita dan bersenda gurau.Pengalaman ini pernah aku rasakan sewaktu nenek dari ibu saya masih hidup. Saat malam tiba aku sudah menyiapkan bahan ataupun alat-alat yang diperlukanya.Pandan ( baca:bayon,bhs batak) yang sudah aku pipihkan lebih dahulu dengan menumbuk di atas sebatang balok kayu yang besar dan sampai semua berkas pandan menjadi pipih dan elastis.Dikala itu penerangan masih minim kami menggunakan lampu petromak atau semprong sebutanya saat itu.Saat jemari nenek menari-nari menganyam saat itulah aku menyimak dengan sepenuhnya ceritanya dan kadang sudah bercampur dengan nasehat serta petuah-amanahnya.Terkadang aku sudah tertidur pulas tetapi nenekku tidak tahu tetapi jemarinya masih menari sampai larut malam.

Kembali pada cerita tikar,bagiku sangat mempunyai arti yang mengesankan.Lalu apa hubunganya dengan sahabat pada judul tulisan ini ? Yah...inilah pengalaman kami bersama dengan sahabatku Franky Sitorus dan Fery Siregar sewaktu kami masih kuliah dan menyewa sebuah rumah petak di daerah Kalimalang Bekasi.

Tikar yang mempererat persahabatan kami dikala belajar

Tikar yang mempererat persahabatan kami dikala tidur malam

Tikar yang mempererat persahabatan kami dikala makan

Tikar yang mempererat persahabatan kami dikala menyaksikan acara Televisi

Tikar yang mempererat persahabatan kami didalam renungan dan doa pagi

Sahabatku....
Akankah kita kelak masih duduk bersama di atas tikar ?
Ataukah akan berganti dengan sepasang sofa yang menggilas jalinan dan anyaman tikar yang habis ditelan zaman ?

Aku tidak tahu...
Bagiku tikar dan sahabat tidak akan pupus dalam ingatan ...





Jumat, 12 Agustus 2011

Tangan dan matamu

Tangan-tangan terjulur
Mata-mata nan syahdu
Kejadian yang serba kompleks di muka bumi ini,dalam waktu yang bersamaan kerusuhan yang terjadi di Inggris negara yang sudah lama kita kenal dengan kemajuan dan kemakmuranya hampir tidak pernah terdengar kemiskinan dan kelaparan lalu berbanding terbalik dengan yang terjadi di Somalia sekarang ini.Informasi terakhir lebih kurang dari 2 juta orang terancam kekurangan makanan dan air bersih.Tingkat kematian tinggi terjadi pada anak balita yaitu dalam setiap 6 menit.Sungguh angka yang sangat dramatis sekali dibandingkan dengan jumlah kelahiran yang hanya 30 menit saja.

Hatiku sangat bergetar ketika aku melihat mata anak-anak dalam foto ini. Terbayang langsung dengan Oswald (putraku) ketika dia menginginkan sesuatu dari aku hanya dengan tatapan seperti ini tanpa mengeluarkan kata-kata berharap pasti akan menerima sesuatu.

Betapa aku lebih bersyukur lagi kepada Tuhan kalaulah Oswald lebih beruntung sedikit dari mereka tanpa dengan tangan yang selalu terjulur dan mata syahdu akan mendapatkan sedikit makanan dan minuman sebagai pelepas lapar dan dahaga.

Tangan-tangan terjulur dan mata-mata nan syahdu akan menjadi pelajaran bagiku dan mengerti betapa Tuhan sebenar benarnya tidak menginginkan hal ini karena semua manusia di bumi ini adalah ciptaan Nya dan sangat berharga di mata Nya.